Kisah Inspirasi; (Bukan) Cerita Juara Ijtihad Merangkum Kegagalan


(Bukan) Cerita Juara Ijtihad Merangkum Kegagalan


"Jangan silau pada hasil, tapi banggalah pada proses!"
SeputarPembahasan.Com- Kok bisa? Sering kali pertanyaan ini muncul tiap mendengar kabar kesuksesan seseorang. Kita merasa heran campur kagum atas pencapaian yang mereka peroleh dan mungkin juga berandai-andai bisa seperti mereka. Memang seperti itulah naluri alamiah manusia. Namun sadarkah kita bahwa dibalik prestasi yang baru diraih, sebelumnya mereka telah mengalami sakitnya kegagalan.

Dibanding peserta lain, tulisan saya barangkali berbeda. Maklum, saya tak punya prestasi hebat yang perlu dibanggakan apalagi dibagikan kepada khalayak. Lagi pula, menceritakan kegagalan tampaknya lebih asyik karena diakui atau tidak, sukses merupakan akumulasi dari kegagalan. Apalagi menulis memang merupakan suatu keterampilan. Tentu butuh proses panjang untuk benar-benar dianggap bisa dan ahli.

Dalam beberapa kali mengikuti lomba menulis dan gagal, setidaknya saya bisa memberikan beberapa benang merah sebagai alasan dari kegagalan tersebut. Pertama, perhatikan tulisan kita, sudah sesuaikah dengan tema lomba. Dalam lomba cerpen, usahakan tema dari panitia dijadikan dominasi dalam penceritaan. Soalnya saya pernah mengikuti lomba menulis cerpen bertema "kepesantrenan", karya saya bahkan tidak masuk nominasi. Padahal setelah tulisan itu saya kirim ke media yang terkenal selektif ternyata dimuat. Setelah dipikir-pikir sayapun sadar kalau ternyata setting pesantren hanya menjadi pelengkap dalam tulisan tersebut.

Kedua, penuhi semua persyaratan. Saya pernah ikut lomba menulis dari suatu penerbit. Seperti biasa, salah satu syaratnya adalah membagikan informasi lomba tersebut dimedsos. Namun karena sudah terburu-buru akhirnya saya lupa melakukannya. Dan sudah bisa ditebak, tak ada nama saya di daftar peserta lomba, dalam artian, saya gugur sebelum bertanding. Maka dari itu, sebelum mengirimkan naskah usahakan cek dulu semua persyaratan, baik itu syarat administratif, seperti melampirkan pindaian kartu identitas, pas foto, maupun yang berkenaan langsung dengan tulisan seperti jenis font, batas karakter dan semacamnya.

Kedua hal diatas bisa dimasukkan pada kategori kegagalan yang berasal dari kita sendiri. Sementara yang disebabkan oleh pihak luar setidaknya juga ada dua. Pertama, ketatnya persaingan. Bagi anda yang berniat mengikuti suatu event lomba, terlebih dahulu ukur kemampuan anda. Sebab suatu perlombaan diikuti oleh banyak orang dengan kualitas yang beragam. Syukur-syukur kalau tidak dipungut biaya, kalau berbayar dan kalah, tentu kita yang rugi. Terakhir, lihat pula profil penyelenggara. Sebab saya pernah mengikuti lomba kepenulisan oleh suatu penerbit lima tahun lalu. Namun hingga kini tak jelas nasib dan kelanjutan ceritanya.

Lantas, apakah saya tak pernah memenangi lomba? Tentu saja pernah. Tahun ini saja ada dua even yang berhasil mengantarkan saya pada posisi nominator dan juara. Januari lalu essay saya sukses duduk di peringkat 18 dalam suatu lomba dari CSS MoRA. Lalu pada lomba menulis dari PMII Mei lalu, artikel tentang agraria berhasil menjadi juara kedua dari puluhan peserta yang ikut. Namun entah mengapa, saya merasa "tak ada yang menarik dari sebuah kesuksesan kecuali kesuksesan itu sendiri, namun kegagalan akan memiliki keseruannya tersendiri tergantung separah apa kegagalan itu".

Maka berhentilah menyilaukan hasil, lalu banggalah pada prosesnya.

Demikianlah tulisan mengenai Kisah Inspirasi; (Bukan) Cerita Juara Ijtihad Merangkum Kegagalan penulis dalam artikel ini adalah Ach. Khalilurrahman. Lahir di Sumenep 21 tahun lalu. Kini sedang menyelesaikan studinya di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep Jawa Timur.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Inspirasi; (Bukan) Cerita Juara Ijtihad Merangkum Kegagalan"